Polisi Kejar Pelaku Pengibaran Bintang Kejora

SUARA PEMBARUAN DAILY


Polisi Kejar Pelaku Pengibaran Bintang Kejora

[JAYAPURA] Kepolisian Daerah (Polda) Papua melakukan pengejaran terhadap pelaku pengibaran Bendera Bintang Kejora di Kantor Lurah Yabansai, Distrik Heram, Kota Jayapura, Papua, Kamis (1/5) pagi.

Akibat pengibaran bendera Bintang Kejora yang merupakan simbol gerekan separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) polisi telah memeriksa 5 orang untuk dimintai keterangan sebagai saksi.

Kapolresta Jayapura AKBP Roberth Djoenso SH saat dihubungi SP, Sabtu (3/5) pagi mengatakan pihaknya terus mengembangkan penyelidikan terhadap kasus ini.

 

Pasal Makar

Tidak tertutup kemungkinan akan memanggil Lurah Yabansai, Distrik Heram, Kota Jayapura untuk dimintai keterangan terkait aksi tersebut.

“Siapapun yang terbukti melakukan pengibaran bendera yang merupakan simbol separatis OPM di Papua akan dijerat dengan pasal-pasal makar sebagaimana yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Untuk makar ini, hukuman pidananya cukup tinggi, yakni ancaman hukuman pidana seumur hidup atau penjara 20 tahun,” ujarnya.

Dikatakan dari 5 orang saksi yang telah dimintai keterangan, rata-rata saksi ini belum mengetahui siapa pelaku pengibaran bendera Bintang Kejora tersebut.

“Yang jelas, pengibaran bendera Bintang Kejora di tiang bendera Kantor Lurah Yabansai ini, bukan dinaikkan Kamis pukul 01.00 WIT sebagaimana yang diberitakan beberapa media, tapi yang jelas ditemukan pukul 06.00 WIT,” ujarnya. [154]

 


Last modified: 3/5/08

Diterbitkan di: on 03-04-2008 at 12.00 p03 Tinggalkan sebuah Komentar
Tags:

Pesan Moral dari Cerita Rakyat Papua

SUARA PEMBARUAN DAILY


Pentas “Nug Nug Wan” 

Pesan Moral dari Cerita Rakyat Papua

SP/Ruht Semiono

Penyanyi Edo Kondologit (kiri) tampil dalam Pentas Sastra Lisan “Nug Nug Wan” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat (2/5). “Nug Nug Wan” merupakan cerita rakyat dari Tobati Enggros, Jayapura, Papua yang diekspresikan dalam bentuk seni pertunjukan.

Berkumpul bersama merupakan adat kebiasaan masyarakat Papua. Saat itu, mereka bisa saling bertukar cerita atau anekdot. Banyak cerita-cerita itu yang diceritakan secara turun-temurun hingga sering dikira legenda rakyat. Melalui kisah tersebut, banyak pesan moral yang bisa dipetik, seperti yang diceritakan dalam Nug Nug Wan.

Cerita milik masyarakat Enggros Tobati, Jayapura Papua ini dikemas secara apik ke dalam bentuk seni pertunjukan teater oleh Yayasan Papua Art’s Centre Entertainment (PACE). Pertunjukan yang digelar di teater Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada Jumat (2/5) tersebut menggabungkan seni tari dan musik dengan sastra lisan.

Menurut sutradara pertunjukan, Jefri Zeth Nendissa, sastra lisan merupakan budaya masyarakat Papua yang diwariskan turun-temurun. Tidak ada buku yang menuliskan kisah-kisah tersebut. Semua cerita diwariskan dari mulut ke mulut.

Kisah yang diangkat malam itu pun sebenarnya sangat sederhana. Diangkat dari “Mop” atau cerita komedi ringan yang dibumbui dengan nilai-nilai kebijaksanaan. Alkisah sepasang suami istri yang tamak, satu-satunya pemilik kolam ikan di dunia yang tidak diketahui oleh masyarakat. Namun akhirnya, rahasia mereka terbongkar juga sehingga kolam tersebut dihancurkan oleh tuan tanah sehingga ikan-ikan di dalamnya dapat dimiliki oleh masyarakat. Kolam yang terbongkar tersebut kemudian dipercaya sebagai teluk Yotefa.

Nendissa mengatakan tujuan awal ia mengangkat cerita rakyat milik desa Tobati dan Enggros adalah untuk memperkenalkan kepada masyarakat luas sebuah kisah anekdot mengenai asal usul teluk indah yang terletak di sebelah utara pulau Irian tersebut.

Seni pertunjukan ini menggabungkan nyanyian khas Papua dan tari-tarian rakyat sehingga menarik ditonton. Belum lagi para penonton juga dimanjakan suara merdu Edo Kondologit dan Michael “Idol” Jakarimilena. Edo berperan sebagai pencerita yang membimbing penonton memahami isi dari kisah yang disampaikan. Namun, tidak hanya sebagai narator, Edo juga mengambil bagian sebagai penyanyi dan penari dalam pertunjukan tersebut.

Pemeran suami atau ayi dalam pertunjukan tersebut adalah Michael Jakarimilena. Ia juga merupakan finalis Indonesia idol 2004. selain berakting dalam pertunjukan ini, ia juga menunjukkan kebolehannya bernyanyi. Pemeran istri atau anyi adalah Putri Nere, reporter sebuah stasiun swasta yang juga pernah ikut dalam ajang Miss Indonesia 2006.

Pertunjukan juga bergulir secara ringkas, ringan dan dibumbui banyak komedi sehingga terasa ringan. Para penari bergerak secara luwes dan dinamis mengikuti irama lagu pop Papua seperti “Pangkur Sagu” yang dikolaborasikan dengan tarian pergaulan Papua, Yosim Pancar.

 

Sulit Dicerna

Setting panggung yang sederhana juga tidak terlihat kaku. Sayangnya, pertunjukan teater tersebut berdialog dalam bahasa Indonesia dengan dialek Papua yang fasih sehingga sulit dicerna bagi orang awam yang jarang mendengar.

Tata panggung juga disusun dengan apik dengan setting lampu yang pas. Namun sayangnya, pada beberapa adegan, tata suara agak kacau dan saling tumpang tindih sehingga mengganggu pertunjukan. Namun, gangguan tersebut tidak membuat penonton kecewa. Berkali-kali terdengar tawa penonton melihat akting para pemain teater yang berdialog secara natural dan atraktif dengan penonton.

Tidak heran. Walau membawa budaya khas Papua dan pemain-pemain serta penari yang semuanya merupakan produk Papua, jalan cerita Nug Nug Wan kental dengan unsur pop yang ringan. Jefri Zeth Nendissa, arsitek dibalik pertunjukan ini sudah mengemban ilmunya selama bertahun-tahun di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Ia mengatakan sudah saatnya cerita rakyat milik tanah Papua diceritakan kepada masyarakat luas dengan cara yang ringan, seperti halnya cerita-cerita ini dikisahkan turun-temurun dengan cara yang ringan.

Judul Nug Nug Wan yang ia pilih berarti cerita dari kampung. Jefri mengatakan anekdot teluk Yotefa tersebut dipilih sebagai jalan cerita karena ia memiliki rasa kedekatan dengan lokasi teluk tersebut. Lahir dan besar di Jayapura, Jefri mengatakan ia tumbuh dan besar dengan cerita tersebut. Riset yang untuk pertunjukan ini juga hanya sekitar 2 minggu. Itu pun untuk memperdalam detail cerita dengan menggandeng masyarakat asli Tobati Enggros untuk ikut serta dalam pertunjukan Nug Nug Wan.

Hadir pula malam itu, Menteri Kelautan dan Perikanan, Freddy Numberi, yang juga merupakan tokoh adat masyarakat Papua. Ia mengungkapkan perlunya pertunjukan-pertunjukan kebudayaan seperti Nug Nug Wan untuk mengangkat budaya Timur agar dapat dikenal luas hingga ke negri seberang. Tokoh-tokoh lain yang hadir adalah seperti beberapa pemangku masyarakat adat Papua serta pasangan artis Nia Zulkarnaen dan Ari Sihasale yang mengaku menikmati pertunjukan tersebut. [CAT/U-5]

Diterbitkan di: on at 12.00 p03 Tinggalkan sebuah Komentar
Tags:

West Papuan activists mark 45 years of occupation by Jakarta

Radio New Zealand International

West Papuan activists mark 45 years of occupation by Jakarta

Posted at 07:57 on 01 May, 2008 UTC

The West Papua National Coalition of Liberation says Indonesia can point to little in the way of progress in the Papua region since its occupation in 1963.

West Papuan activists around the world are using May 1st, the 45th anniversary of Indonesia’s occupation of West Papua, to renew their call for international dialogue on Papuan self-determination.

The Coalition, which represents a wide range of Papuan political and civil society groups, has ruled out pushing for independence in the foreseeable future.

But the Coalition’s spokeswoman Paula Makabori says they’ll keep lobbying for dialogue because under Indonesian rule, Papuans’ fundamental rights have never been respected.

“The only thing showing on the ground is the human rights abuses increasing since back to the year when they take over West Papua. Today the West Papuans are trying to manage themselves and say, look, here we are and we’re ready to take you to the international arena to solve the problems in fair and respectful, peaceful dialogue.”

Paula Makabori

News Content © Radio New Zealand International
PO Box 123, Wellington, New Zealand